BERTEMU PUTRI PENJAGA PANTAI PART 1

Bertemu Putri Penjaga Pantai Cerita Horor Terbaru Part 1

Kejadian ini aku alami ketika aku tinggal di rumah nenekku di Jawa Timur, tepatnya di kabupaten Jember kecamatan Ambulu. Karena aku SMA disana sedangkan kedua orang tuaku tugas di luar Jawa. Cerita ini aku Bertemu Putri Penjaga Pantai.

Cerita ini bermula dari kebiasaan kegiatan malam minggu aku dan teman2 nongkrong (yang sebagian teman sekolah). Biasa tiap malam minggu aku dan teman selalu berkumpul di warung kopi di perempatan jalan kecamatan, biasanya dilakukan sekitar jam 9an.

Karena sorenya melakukan kegiatan masing2, ada yang ngapel ada yang bantuin orang tua dulu. Biasa anak2 ABG kalau ngumpul biasanya main gitar, ada yang main kartu soalnya di warung itu tempatnya enak banget buat nongkrong. Tapi malam itu aku iseng2 usul sama teman2 “Masa kita tiap malam minggu disini mulu.

Sekali2 jalan2 ke pantai yuk siapa tahu bisa dapat kenalan cewek.”sebab daerahku itu dekat sama tempat pariwisata pantai Watu Ulo jaraknya sekitar 15 km dari daerah kami. Pantai Watu Ulo itu terletak di ujung Selatan kabupaten Jember dan biasanya kalau malam minggu ramai orang pacaran karena tempatnya yang teduh dan pantainya yang indah.

Setelah berembuk bareng2 akhirnya teman2 setuju semua. “Kenapa tidak? masa anak muda malam mingguannya di warung kopi melulu, siapa tahu nanti di pantai bisa bakar2 ikan atau dapat kenalan cewek2” kata teman2 aku.

Akhirnya setelah semua setuju, kita yang ada di dalam warung itu berangkat naik motor. Ada yang boncengan ada yang sendirian, tapi aku sendirian naik motor. Ditengah perjalanan ketika melewati sawah2 tiba2 ban motorku kempes. Untung di belakangku masih ada 2 pengendara motor yaitu temanku Toni dan Didin.

Bertemu Putri Penjaga Pantai

Jadi mereka menemaniku mencari tukang tambal ban. Bayangin kalau aku paling belakang wah pasti ketinggalan sendirian, mau teriak2 mereka udah pada ngebut karena waktu itu masih jarang pegang handphone.

Setelah menelusuri jalan sambil menuntun sepeda motor (karena kalau dinaikin takut tambah parah bocornya). Sekitar jalan 1km an baru menemukan tukang tambal ban, itu pun harus menggedor2 rumahnya karena udah tutup. Selesai ditambal langsung aku lanjutkan perjalananku menu pantai.

Aku berjalan beriringan bersama Didin menembus malam yang gelap. Hanya lampu dari motor saja yang menerangi karena di sepanjang jalan tidak ada penerangan. Maklum namanya kampung dan daerahnya melewati sawah2 dan rumah penduduknya jarang2.

Ketika aku sedang asik memacu kencang motorku, dari tampak kejahuan aku lihat orang yang sedang menuntun motornya. Karena merasa kasihan aku hampiri orang itu, setelah dekat ternyata dua orang perempuan yang masih seumuranku sekitar 17an. Didin juga ikut menghampiri. Setelah aku sapa, dia berhenti.

“Kenapa motornya mbak?” tanyaku. “Nggak tahu tiba2 saja mogok, tapi bensinnya masih penuh” jawabnya. Setelah nanya2 akhirnya aku putuskan bersama Didin untuk membantu dua gadis itu membetulkan motornya.

Aku bongkar kabulator dan businya, dengan diterangi nyala lampu dari matorku akhirnya berhasil juga dan bisa jalan lagi. Sebelum melanjutkan perjalanan dua gadis itu memperkenalkan namanya Diyah dan Inggit. Akhirnya kita jalan bareng menuju pantai.

Tapi baru jalan lima ratus meteran Diyah yang menyetir motor membonceng Inggit menghentikan motornya, aku pun ikut berhenti. “Kenapa berhenti?” tanyaku. “Aku mau langsung pulang mas” jawab Diyah. “Emang rumah kamu dimana?”.”Di seberang sawah itu”

sambil menunjuk ke hamparan persawahan. “Wah jangan2 bukan manusia ini” pikirku. Buru2 aku kabur, ku pacu motorku meninggalkan dua gadis itu. Didin mengikutiku dari belakang dengan motornya. (Cerita bertemu putri penjaga pantai ini bersambung, sebab udah ngantuk berat).